Nidzomul Islam
Loncat ke Halaman
Halaman 136
الْأَخْلَاقُ فِي الْإِسْلَامِ.
Akhlak dalam Islam.
عُرِفَ الْإِسْلَامُ بِأَنَّهُ الدِّينُ الَّذِي أَنْزَلَهُ اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ، لِتَنْظِيمِ عَلَاقَةِ الْإِنْسَانِ بِخَالِقِهِ، وَبِنَفْسِهِ، وَبِغَيْرِهِ مِنْ بَنِي الْإِنْسَانِ.
Islam dikenal sebagai agama yang diturunkan Allah kepada junjungan kita Muhammad SAW, untuk mengatur hubungan manusia dengan Penciptanya, dengan dirinya sendiri, dan dengan sesamanya dari kalangan manusia.
وَعَلَاقَةُ الْإِنْسَانِ بِخَالِقِهِ تَشْمُلُ الْعَقَائِدَ وَالْعِبَادَاتِ.
Dan hubungan manusia dengan Penciptanya meliputi akidah dan ibadah.
وَعَلَاقَةُ الْإِنْسَانِ بِنَفْسِهِ تَشْمُلُ الْأَخْلَاقَ وَالْمَطْعُومَاتِ وَالْمَلْبُوسَاتِ.
Dan hubungan manusia dengan dirinya sendiri meliputi akhlak, makanan, dan pakaian.
وَعَلَاقَتُهُ بِغَيْرِهِ مِنْ بَنِي الْإِنْسَانِ تَشْمُلُ الْمُعَامَلَاتِ وَالْعُقُوبَاتِ.
Dan hubungannya dengan sesamanya dari kalangan manusia meliputi muamalah dan hukuman.
وَالْإِسْلَامُ يُعَالِجُ مَشَاكِلَ الْإِنْسَانِ كُلَّهَا، وَيَنْظُرُ لِلْإِنْسَانِ كُلًّا لَا يَتَجَزَّأُ.
Dan Islam menangani seluruh masalah manusia, dan memandang manusia secara keseluruhan yang tidak terpisahkan.
وَلِذَلِكَ يُعَالِجُ مَشَاكِلَهُ بِطَرِيقَةٍ وَاحِدَةٍ، وَقَدْ بَنَى نِظَامَهُ عَلَى أَسَاسٍ رُوحِيٍّ، هُوَ الْعَقِيدَةُ، فَكَانَتِ النَّاحِيَةُ الرُّوحِيَّةُ هِيَ أَسَاسَ حَضَارَتِهِ، وَهِيَ أَسَاسَ دَوْلَتِهِ، وَهِيَ أَسَاسَ شَرِيعَتِهِ.
Oleh karena itu, ia menangani masalah-masalahnya dengan satu cara, dan telah membangun sistemnya di atas dasar spiritual, yaitu akidah. Maka, aspek spiritual adalah dasar peradabannya, dasar negaranya, dan dasar syariatnya.
وَمَعَ أَنَّ الشَّرِيعَةَ الْإِسْلَامِيَّةَ فَصَّلَتِ الْأَنْظِمَةَ تَفْصِيلًا دَقِيقًا، كَأَنْظِمَةِ الْعِبَادَاتِ وَالْمُعَامَلَاتِ وَالْعُقُوبَاتِ، فَإِنَّهَا لَمْ تَجْعَلْ لِلْأَخْلَاقِ نِظَامًا مُفَصَّلًا.
Meskipun syariat Islam telah merinci sistem-sistem dengan sangat teliti, seperti sistem ibadah, muamalah, dan hukuman, namun ia tidak menjadikan akhlak sebagai sistem yang terperinci.
وَإِنَّمَا عَالَجَتْ أَحْكَامَ الْأَخْلَاقِ عَلَى اعْتِبَارِ أَنَّهَا أَوَامِرُ وَنَوَاهٍ مِنَ اللَّهِ، دُونَ النَّظَرِ إِلَى تَفْصِيلِ أَنَّهَا أَخْلَاقٌ يَجِبُ أَنْ تُعْطَى جَانِبًا خَاصًّا مِنَ الْعِنَايَةِ يَمْتَازُ عَلَى غَيْرِهِ.
Melainkan ia menangani hukum-hukum akhlak dengan menganggapnya sebagai perintah dan larangan dari Allah, tanpa melihat perincian bahwa akhlak adalah sesuatu yang harus diberikan perhatian khusus yang membedakannya dari yang lain.
بَلْ هِيَ مِنْ حَيْثُ تَفْصِيلُ الْأَحْكَامِ، أَقَلُّ تَفْصِيلًا مِنْ غَيْرِهَا.
Bahkan, dari segi perincian hukum, ia (akhlak) lebih sedikit perinciannya dibandingkan yang lain.
وَلَمْ تَجْعَلْ لَهَا فِي الْفِقْهِ بَابًا خَاصًّا.
Dan ia tidak menjadikan baginya (akhlak) bab khusus dalam fikih.
فَلَا نَجِدُ فِي كُتُبِ الْفِقْهِ الَّتِي تَحْوِي الْأَحْكَامَ الشَّرْعِيَّةَ بَابًا يُسَمَّى.
Maka kita tidak menemukan dalam kitab-kitab fikih yang memuat hukum-hukum syariat suatu bab yang dinamakan (akhlak).
Halaman 137
بابَ الأَخْلاقِ.
Bab Akhlak.
وَلَمْ يُعْنَ الفقهاء والمُجْتَهِدونَ في أَمْرِ الأَحْكَامِ الخُلُقِيَّةِ بالبحث والاستنباط.
Dan para fuqaha serta mujtahid tidak terlalu memperhatikan masalah hukum-hukum akhlak dalam penelitian dan penggalian hukum.
والأخلاقُ لا تؤثر في قِيَامِ المجتمع بِحَالٍ، لأَنَّ المجتمعَ يَقُومُ عَلَى أَنظمة الحَيَاةِ، وتؤثر فيه المشاعرُ والأَفْكَارُ
Akhlak tidak berpengaruh sama sekali dalam tegaknya masyarakat, karena masyarakat berdiri di atas sistem kehidupan, dan perasaan serta pemikiranlah yang memengaruhinya.
وأَمَّا الخُلُقُ فلا يُؤثر في قِيَامِ المجتمع، ولا في رقِيهِ أو انحطاطهِ، بَل المؤثرُ هُوَ العرفُ العام الناجمُ عَنِ الْمَفَاهِيمِ عَنِ الحَيَاةِ، والمسير للمجتمع لَيْسَ الخُلُق، وإنما هي الأنظمةُ الَّتِي تُطَبَّقُ فِيهِ، والأَفْكَارُ والمشاعرُ الَّتي يحملها الناسُ والخُلقُ ذاتُهُ ناجِمٌ عَنِ الأَفْكَارِ والمشاعر ونتيجة لتطبيق النظام.
Adapun akhlak, ia tidak berpengaruh dalam tegaknya masyarakat, tidak pula dalam kemajuan atau kemundurannya. Bahkan yang berpengaruh adalah adat istiadat umum yang timbul dari pemahaman tentang kehidupan, dan yang menggerakkan masyarakat bukanlah akhlak, melainkan sistem-sistem yang diterapkan di dalamnya, serta pemikiran dan perasaan yang dibawa oleh manusia, dan akhlak itu sendiri timbul dari pemikiran dan perasaan serta hasil dari penerapan sistem.
وعَلَى ذَلِكَ فَلا يَجُوزُ أَن تُحْمَلَ الدَعْوَةُ إِلَى الأَخْلاقِ في المجتمع، لأَنَّ الأخلاق نتائج لأَوَامِرِ اللهِ ، فهي تأتي مِنَ الدَعْوَةِ إِلَى العَقِيدَةِ، وإلى تَطْبِيقِ الإسلام بصفة عَامَّةٍ.
Oleh karena itu, tidak boleh dakwah kepada akhlak dibawa ke dalam masyarakat, karena akhlak adalah hasil dari perintah-perintah Allah, ia datang dari dakwah kepada akidah, dan kepada penerapan Islam secara umum.
ولأَنَّ فِي الدَعْوَةِ إِلَى الأَخْلاقِ قلباً للمَفَاهِيمِ الإِسْلامِيَّةِ عَنِ الحَيَاةِ، وإبعاداً للناسِ عَنِ تَفهُم حقيقة المجتمع ومقوماته، وتخديراً لَهُمْ بالفضائل الفرديةِ يُؤَدِّي إِلَى الغَفْلَةِ عَنِ الوسائل الحقيقية لرقي الحياة.
Dan karena dalam dakwah kepada akhlak terdapat pemutarbalikan konsep-konsep Islam tentang kehidupan, dan menjauhkan manusia dari pemahaman hakikat masyarakat dan unsur-unsurnya, serta meninabobokan mereka dengan keutamaan-keutamaan individu, yang pada akhirnya menyebabkan kelalaian terhadap sarana-sarana hakiki untuk kemajuan kehidupan.
ولهذا كانَ مِن الخَطَرِ أَن تُجْعَلَ الدَعْوَةُ الإِسْلَامِيَّةُ دَعْوَةً إِلَى الأَخْلاقِ
Oleh karena itu, berbahaya jika dakwah Islam dijadikan dakwah kepada akhlak.
لأَنَّها توهِمُ أَنَّ الدَعْوَةَ الإِسْلامِيَّةَ دَعْوَةٌ خُلُقِيَّةٌ ، وتَطْمِسُ الصُورَةَ الفِكْرِيَّةَ عَنِ الإِسْلامِ، وَتَحُولُ دُونَ فَهْمِ الناسِ لَهُ ، وتَصْرِفُهُمْ عَنِ الطَرِيقَةِ الوحيدة التي تؤدّي إِلَى تَطْبِيقِهِ وهِيَ قِيَامُ الدَوْلَةِ الإِسْلَامِيَّةِ.
Karena hal itu memberikan ilusi bahwa dakwah Islam adalah dakwah moral, dan mengaburkan gambaran intelektual tentang Islam, serta menghalangi pemahaman manusia terhadapnya, dan memalingkan mereka dari satu-satunya cara yang mengarah pada penerapannya, yaitu tegaknya negara Islam.
والشريعةُ الإِسْلَامِيَّةُ حِينَ عَالَجَتْ عَلَاقَةَ الإِنْسَانِ بنفسِهِ بالأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ المَتَعَلَّقَةِ بالصَّفاتِ الخُلُقِيةِ، لَمْ تَجْعَلْ ذَلِكَ نظاماً كالعبادات والمعاملاتِ، وإِنَّما راعَتْ فِيها تحقيق قيم معينةٍ، أَمَرَ اللهُ بِهَا، كالصدق والأمانةِ وعَدَمِ الغِش والحَسَدِ، فهي تَحْصُلُ مِنْ شَيْءٍ واحدٍ هُوَ الْأَمْرُ مِنَ الله تعالى بالقيمة الخُلُقية، كالمكارم والفضائل.
Dan syariat Islam, ketika menangani hubungan manusia dengan dirinya sendiri melalui hukum-hukum syariat yang berkaitan dengan sifat-sifat akhlak, tidak menjadikannya sebagai sistem seperti ibadah dan muamalah, melainkan ia memperhatikan di dalamnya pencapaian nilai-nilai tertentu yang diperintahkan Allah, seperti kejujuran, amanah, tidak menipu, dan tidak dengki. Maka hal itu (nilai-nilai tersebut) tercapai dari satu hal, yaitu perintah dari Allah Ta'ala dengan nilai akhlak, seperti kemuliaan dan keutamaan.
فالأمانة خُلُقٌ أَمرَ اللهُ بِهِ،
Maka amanah adalah akhlak yang diperintahkan Allah.
Halaman 138
فيَجِبُ أَنْ تُراعَى قيمتها الخُلُقِيةُ حِينَ القِيَامِ بِهَا ، ولذَلِكَ تَتَحَقَّقُ بِهَا القِيمَةُ الخُلُقية وتُسمَّى أَخلاقاً .
Maka wajib untuk diperhatikan nilai moralnya ketika melaksanakannya, dan karena itu terwujudlah nilai moral dengannya dan dinamakan akhlak.
وأَمَّا حُصولُ هَذِهِ الصفاتِ مِن نتائجِ الأَعْمَالِ كَالعِفَّةِ الناتجة عَنِ الصَلاةِ، أَوْ حَصُولها مِن وجُوبِ مراعاتها عِنْدَ القيام بالمعاملات كالصدق في البيع، فلا تَحْصُلُ فِيهِ قِيمُةٌ خُلُقية، لأنها لم تكن مقصودةً مِن القِيَامِ بالعَمَلِ، بَلْ كَانَتْ هَذِهِ الصفاتُ الحَاصِلَةُ مِن نتائج الأَعْمَالِ، ومن وجوب المراعاة، صفاتٍ خُلُقِيَّةً للمؤمِنِ حِينَ يَعبُدُ اللهَ، وَحِينَ يَقُومُ بالمعاملات.
Adapun diperolehnya sifat-sifat ini dari hasil perbuatan seperti kesucian diri yang dihasilkan dari shalat, atau diperolehnya dari kewajiban memperhatikannya ketika melakukan transaksi seperti kejujuran dalam jual beli, maka tidak akan dihasilkan nilai moral padanya, karena ia tidak dimaksudkan dari pelaksanaan amal tersebut, bahkan sifat-sifat yang dihasilkan dari hasil perbuatan dan dari kewajiban memperhatikan itu adalah sifat-sifat moral bagi orang mukmin ketika ia menyembah Allah, dan ketika ia melakukan transaksi.
فإن المؤمنَ حَقَّقَ بالقصد الأولِ القِيمَةَ الرُوحيَّةَ مِن الصَّلاةِ وحَقَّق بالقَصْدِ الثاني القيمة المادية من التجara، واتَّصَفَ في نفس الوقت بالصفات الخلقية.
Maka sesungguhnya orang mukmin telah mewujudkan dengan tujuan pertama nilai spiritual dari shalat, dan mewujudkan dengan tujuan kedua nilai material dari perdagangan, serta menyifati diri pada waktu yang sama dengan sifat-sifat moral.
وقد بَيَّنَ الشَّرْعُ الصفاتِ الَّتِي يُعتَبَرُ الاتِّصافُ بِهَا خُلُقاً حسناً والَّتِي يعتبر الاتصافُ بِمَا خُلُقاً سَيِّئاً ، فحنَّ عَلَى الحَسَنِ مِنْهَا ونهى عَنِ السَّيِّئ:
Dan sungguh syariat telah menjelaskan sifat-sifat yang dianggap sebagai akhlak yang baik, dan yang dianggap sebagai akhlak yang buruk, maka ia (syariat) menganjurkan yang baik darinya dan melarang yang buruk:
حث على الصدق، والأمانةِ، وطلاقة الوجه، والحياء، وبر الوالدين، وصلة الرَّحِمِ، وتفريج الكُرْبَاتِ، وأَن يُحِبَّ المرء لأخيه ما يُحِبُّ لنفسه، واعْتَبَرَ كلَّ ذَلِكَ ومثلَهُ حَنَّا عَلَى اتَّبَاعِ أَوَامِرِ اللهِ. ونهى عَن أضدادها كالكَذِبِ والخيانة والحَسَدِ والفُجُورِ وأمثالها، واعتَبَرَ ذَلِكَ ومثله نهياً عما نهى الله عنه.
Menganjurkan kejujuran, amanah, wajah yang berseri, rasa malu, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung silaturahim, menghilangkan kesusahan, dan bahwa seseorang mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri, dan ia menganggap semua itu dan yang semisalnya sebagai anjuran untuk mengikuti perintah-perintah Allah. Dan ia melarang lawan-lawannya seperti dusta, khianat, dengki, kefasikan, dan yang semisalnya, dan ia menganggap semua itu dan yang semisalnya sebagai larangan dari apa yang Allah larang.
والأخلاق جزء مِن هَذِهِ الشريعة، وقسمٌ مِن أَوَامِرِ اللَّهِ وَنَوَاهِيهِ، لَا بُدَّ من تحقيقها في نفس المسْلِمِ ليتِمَّ عَمَلُهُ بالإِسْلامِ، وَيَكْمُلَ قِيَامُهُ بِأَوَامِرِ اللَّهِ.
Dan akhlak adalah bagian dari syariat ini, dan bagian dari perintah-perintah dan larangan-larangan Allah, pasti harus direalisasikan dalam diri seorang muslim agar amalannya sempurna dengan Islam, dan pelaksanaannya terhadap perintah-perintah Allah menjadi sempurna.
غَيْرَ أَنَّ الوصول إليها في المجتمع كلّهِ يَكُونُ عَن طَرِيقِ إيجاد المشاعرِ الإِسْلامِيَّةِ، والأَفْكَارِ الإِسْلامِيَّة، وبتحقيقها في الجَمَاعَةِ تتحقق في الأفراد ضرورةً، وَبَدَهِي أَنَّ الوصول إليها لا يَكُونُ بالدَعْوَةِ إِلَى الأَخْلاقِ، بَلْ بالطريق المشار إليها من إيجاد المشاعر والأفكارِ ، غَيْرَ أَنَّ البَدْءَ يقضي بإعداد كتلة بالإِسْلامِ كُلِّهِ، يَكُونُ فيها الأفراد كأجزاء في جَمَاعَةٍ، لا كأفراد مستقلِّينَ، ليحمِلُوا الدَعْوَةَ الإِسْلامِيَّةَ الكاملة في المجتمع، فيُوجِدُوا المشاعر الإِسْلاميَّة، والأَفْكَارَ الإِسْلامِيَّةَ، فيدخل
Namun, pencapaiannya di seluruh masyarakat adalah melalui penciptaan perasaan-perasaan Islami dan pemikiran-pemikiran Islami, dan dengan merealisasikannya dalam komunitas, maka ia terwujud pada individu-individu secara niscaya. Dan jelaslah bahwa pencapaiannya tidaklah dengan dakwah kepada akhlak, melainkan dengan jalan yang ditunjukkan yaitu menciptakan perasaan-perasaan dan pemikiran-pemikiran. Namun, permulaan itu mengharuskan persiapan sebuah blok/kelompok yang utuh dengan Islam, di mana individu-individu di dalamnya menjadi bagian-bagian dalam sebuah komunitas, bukan sebagai individu-individu yang mandiri, agar mereka membawa dakwah Islam yang sempurna di masyarakat, lalu mereka menciptakan perasaan-perasaan Islami dan pemikiran-pemikiran Islami, lalu masuklah...
Halaman 139
النَّاسُ فِي الْأَخْلَاقِ أَفْوَاجًا تَبَعًا لِدُخُولِهِمْ فِي الْإِسْلَامِ أَفْوَاجًا.
Manusia dalam akhlak itu berkelompok-kelompok sesuai dengan masuknya mereka ke dalam Islam secara berkelompok.
وَيَنْبَغِي أَنْ يُفْهَمَ جَلِيًّا أَنَّ قَوْلَنَا هَذَا يَجْعَلُ الْأَخْلَاقَ لَازِمَةً لُزُومًا حَتْمِيًّا لِأَوَامِرِ اللَّهِ، وَتَطْبِيقِ الْإِسْلَامِ، وَيُؤَكِّدُ ضَرُورَةَ اتِّصَافِ الْمُسْلِمِ بِالْأَخْلَاقِ الْحَسَنَةِ.
Dan seharusnya dipahami dengan jelas bahwa perkataan kami ini menjadikan akhlak sebagai keharusan yang pasti bagi perintah-perintah Allah dan penerapan Islam, serta menegaskan pentingnya seorang Muslim berakhlak mulia.
وَقَدْ بَيَّنَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كَثِيرٍ مِنْ سُوَرِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ الصِّفَاتِ الَّتِي يَجِبُ أَنْ يَتَّصِفَ بِهَا الْإِنْسَانُ، وَالَّتِي يَجِبُ أَنْ يَسْعَى إِلَيْهَا.
Dan sungguh Allah Ta'ala telah menjelaskan dalam banyak surat Al-Qur'an yang mulia sifat-sifat yang wajib dimiliki oleh manusia, dan yang wajib diusahakan.
وَهَذِهِ الصِّفَاتُ هِيَ الْعَقَائِدُ، وَالْعِبَادَاتُ، وَالْمُعَامَلَاتُ، وَالْأَخْلَاقُ، وَلَا بُدَّ مِنْ أَنْ تَكُونَ هَذِهِ الصِّفَاتُ الْأَرْبَعُ مُجْتَمِعَةً،
Dan sifat-sifat ini adalah akidah, ibadah, muamalah, dan akhlak, dan haruslah keempat sifat ini terkumpul.
قَالَ تَعَالَى فِي سُورَةِ لُقْمَانَ: ﴿وَإِذْ قَالَ لُقْمَنُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشَّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَى الْمَصِيرُ وَإِن جَهَدَاكَ عَلَى أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَى مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ يَبْنَى إِنَّهَا إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ يَبْنَى أَقِمِ الصَّلَوٰةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَأَنْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِن صَوْتِكَ إِنَّ أَنكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ.
Allah Ta'ala berfirman dalam Surah Luqman: "Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, saat dia menasihatinya: 'Wahai anakku, janganlah engkau menyekutukan Allah. Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang besar.' Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang tuanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Ku lah kembali. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku lah tempat kembalimu, maka Aku akan memberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Wahai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu, atau di langit, atau di bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Wahai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat kebaikan dan cegahlah (mereka) dari perbuatan mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara-perkara yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanakanlah dalam berjalanmu dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai."
وَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى فِي سُورَةِ الْفُرْقَانِ: ﴿وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا وَالَّذِينَ لَا
Dan Allah Ta'ala berfirman dalam Surah Al-Furqan: "Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan 'salam'. Dan orang-orang yang menghabiskan malam untuk Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri. Dan orang-orang yang berkata: 'Ya Tuhan kami, jauhkanlah azab Jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal.' Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat tinggal. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. Dan orang-orang yang tidak...
Halaman 140
يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَيْهَا ءَاخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ
(dan orang-orang yang tidak menyeru tuhan lain bersama Allah, dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina.)
وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا يُضَعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا
Barangsiapa melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat balasan dosa, akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam (azab itu) dalam keadaan terhina.
إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُوْلَتِبِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka akan diganti Allah dengan kebaikan. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
وَمَن تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا
Dan barangsiapa bertobat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertobat kepada Allah dengan tobat yang sebenar-benarnya.
وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا
Dan orang-orang yang tidak memberikan kesaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan yang tidak berfaedah, mereka berlalu dengan menjaga kehormatan dirinya.
وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِنَايَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ تَحِرُّوا عَلَيْهَا صُمَّا وَعُمْيَانًا
Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah bersikap sebagai orang-orang yang tuli dan buta.
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Dan orang-orang yang berkata, "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa."
أُوْلَبِكَ تُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلَامًا خَالِدِينَ فِيهَا حَسُنَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا.
Mereka itulah orang yang akan diberi balasan dengan tempat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka, dan mereka akan disambut di sana dengan penghormatan dan salam, mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman.
ويقول الله تعالى في سورة الإسراء:
Dan Allah Ta'ala berfirman dalam Surah Al-Isra':
وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقUL لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا
Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, "Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidikku pada waktu kecil."
رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا فِي نُفُوسِكُمْ إِن تَكُونُواْ صَالِحِينَ فَإِنَّهُ كَانَ لِلْأَوَّابِينَ غَفُورًا
Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertobat.
وَءَاتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ، وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا
Dan berikanlah kepada kerabat dekat haknya, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.
إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا
Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.
وَإِمَّا تُعْرِضَنَّ عَنْهُمُ ابْتِغَاءَ رَحْمَةٍ مِّن رَّبِّكَ تَرْجُوهَا فَقُل لَّهُمْ قَوْلاً مَيْسُورًا
Dan jika engkau berpaling dari mereka untuk mencari rahmat dari Tuhanmu yang engkau harapkan, maka katakanlah kepada mereka perkataan yang lemah lembut.
وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا تَحْسُورًا
Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (kikir), dan jangan (pula) engkau terlalu mengulurkannya (boros) secara berlebihan, nanti engkau menjadi tercela dan menyesal.
إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَن يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا
Sungguh, Tuhanmu melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki); sungguh, Dia Maha Mengetahui, Maha Melihat hamba-hamba-Nya.
وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا
Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa besar.
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.
وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَمَن قُتِلَ
Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), kecuali dengan suatu alasan yang benar. Dan barangsiapa dibunuh...
Halaman 141
مَظْلُومًا فَقَدْ جَعَلْنَا لِوَلِيِّهِ سُلْطَانًا فَلَا يُسْرِفْ فِي الْقَتْلِ إِنَّهُ كَانَ مَنصُورًا.
(Dan barangsiapa dibunuh) secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada walinya, tetapi janganlah ia melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang ditolong.
وَلَا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا.
Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa. Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu akan dimintai pertanggungjawaban.
وَأَوْفُوا الْكَيْلَ إِذَا كِلْتُمْ وَزِنُوا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا.
Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. Itu lebih baik dan lebih bagus akibatnya.
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا.
Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.
وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا.
Dan janganlah kamu berjalan di bumi dengan sombong, karena sesungguhnya kamu tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan dapat mencapai gunung-gunung setinggi apapun.
كُلُّ ذَلِكَ كَانَ سَيِّئُهُ عِندَ رَبِّكَ مَكْرُوهًا.
Semua itu keburukannya adalah dibenci di sisi Tuhanmu.
فَهَذِهِ الْآيَاتُ فِي هَذِهِ السُّوَرِ الثَّلَاثِ كُلٌّ مِنْهَا وَحْدَةٌ كَامِلَةٌ تَعْرِضُ الصِّفَاتِ الْمُخْتَلِفَةَ.
Maka ayat-ayat ini dalam tiga surah ini, masing-masing darinya adalah satu kesatuan yang utuh yang menampilkan sifat-sifat yang berbeda.
تَجْلُو صُورَةَ الْمُسْلِمِ وَتُبَيِّنُ الشَّخْصِيَّةَ الْإِسْلَامِيَّةَ فِي ذَاتِهَا الْمُتَمَيِّزَةِ عَنْ غَيْرِهَا.
Ia menampakkan citra seorang Muslim dan menjelaskan kepribadian Islam dalam esensinya yang khas dari yang lain.
وَيُلَاحَظُ فِيهَا أَنَّهَا أَوَامِرُ وَنَوَاهٍ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى، مِنْهَا أَحْكَامٌ تَتَعَلَّقُ بِالْعَقِيدَةِ، كَمَا أَنَّ مِنْهَا أَحْكَامًا تَتَعَلَّقُ بِالْعِبَادَاتِ، وَأَحْكَامًا تَتَعَلَّقُ بِالْمُعَامَلَاتِ، وَأَحْكَامًا تَتَعَلَّقُ بِالْأَخْلَاقِ.
Dan diperhatikan di dalamnya bahwa ia adalah perintah-perintah dan larangan-larangan dari Allah Ta'ala, di antaranya ada hukum-hukum yang berkaitan dengan akidah, sebagaimana di antaranya ada hukum-hukum yang berkaitan dengan ibadah, dan hukum-hukum yang berkaitan dengan muamalah, dan hukum-hukum yang berkaitan dengan akhlak.
وَيُلَاحَظُ أَنَّهَا لَمْ تَقْتَصِرْ عَلَى صِفَاتٍ خُلُقِيَّةٍ، بَلِ اشْتَمَلَتْ عَلَى الْعَقِيدَةِ، وَالْعِبَادَاتِ، وَالْمُعَامَلَاتِ، كَمَا اشْتَمَلَتْ عَلَى الْأَخْلَاقِ.
Dan diperhatikan bahwa ia tidak terbatas pada sifat-sifat akhlak saja, bahkan mencakup akidah, ibadah, dan muamalah, sebagaimana juga mencakup akhlak.
وَهِيَ الصِّفَاتُ الَّتِي تُكَوِّنُ الشَّخْصِيَّةَ الْإِسْلَامِيَّةَ، وَالِاقْتِصَارُ عَلَى الْأَخْلَاقِ لَا يُوجِدُ الرَّجُلَ الْكَامِلَ، وَالشَّخْصِيَّةَ الْإِسْلَامِيَّةَ.
Dan itulah sifat-sifat yang membentuk kepribadian Islam, dan pembatasan pada akhlak saja tidak akan mewujudkan pribadi yang sempurna, dan kepribadian Islam.
وَلِكَيْ تُحَقِّقَ الْغَايَةَ الَّتِي وُجِدَتْ مِنْ أَجْلِهَا لَا بُدَّ مِنْ أَنْ تَكُونَ مَبْنِيَّةً عَلَى الْأَسَاسِ الرُّوحِيِّ، وَهُوَ الْعَقِيدَةُ الْإِسْلَامِيَّةُ، وَأَنْ يَكُونَ الِاتِّصَافُ بِهَا مَبْنِيًّا عَلَى هَذِهِ الْعَقِيدَةِ.
Dan agar tercapai tujuan yang karenanya ia diciptakan, maka haruslah ia dibangun di atas dasar spiritual, yaitu akidah Islam, dan bahwa sifat-sifat itu dibangun di atas akidah ini.
وَعَلَى ذَلِكَ فَإِنَّ الْمُسْلِمَ لَا يَتَّصِفُ بِالصِّدْقِ لِذَاتِ الصِّدْقِ، بَلْ يَتَّصِفُ بِهِ لِأَنَّ اللَّهَ أَمَرَ بِهِ، وَإِنْ كَانَ يُرَاعِي تَحْقِيقَ الْقِيمَةِ الْخُلُقِيَّةِ حِينَ يَصْدُقُ.
Dan atas dasar itu, sesungguhnya seorang Muslim tidaklah bersifat jujur demi kejujuran itu sendiri, melainkan ia bersifat jujur karena Allah memerintahkannya, meskipun ia memperhatikan pencapaian nilai akhlak ketika ia jujur.
فَالْأَخْلَاقُ لَا يُتَّصَفُ بِهَا لِذَاتِهَا، بَلْ لِأَنَّ اللَّهَ أَمَرَ بِهَا.
Maka akhlak itu tidaklah disifati demi esensinya sendiri, melainkan karena Allah memerintahkannya.
Halaman 142
وَلِهَذَا لَا بُدَّ مِنْ أَنْ يَتَّصِفَ الْمُسْلِمُ بِصِفَاتِهَا، وَأَنْ يَقُومَ بِهَا طَوْعًا وَانْقِيَادًا لِأَنَّهَا مِمَّا يَتَّصِلُ بِتَقْوَى اللَّهِ.
Oleh karena itu, seorang Muslim harus memiliki sifat-sifat tersebut, dan melaksanakannya dengan sukarela dan patuh, karena hal itu termasuk yang berhubungan dengan takwa kepada Allah.
وَبِمَا أَنَّهَا تَأْتِي مِنْ نَتَائِجِ الْعِبَادَةِ: إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
Dan karena ia datang dari hasil ibadah: 'Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar'.
وَمِمَّا يَجِبُ أَنْ يُرَاعَى فِي الْمُعَامَلَاتِ: «الدِّينُ الْمُعَامَلَةُ» عِلَاوَةً عَلَى كَوْنِهَا وَحْدَهَا أَوَامِرَ وَنَوَاهِيَ مُعَيَّنَةً، فَإِنَّ ذَلِكَ يُثَبِّتُهَا فِي نَفْسِ الْمُسْلِمِ، وَيَجْعَلُهَا شِيمَةً لَازِمَةً.
Dan termasuk yang wajib diperhatikan dalam muamalah adalah: 'Agama adalah muamalah', di samping bahwa ia sendiri adalah perintah dan larangan tertentu. Maka hal itu akan menguatkannya dalam diri seorang Muslim dan menjadikannya sebagai karakter yang melekat.
وَعَلَيْهِ فَقَدْ كَانَ انْدِمَاجُ الْأَخْلَاقِ بِبَاقِي أَنْظِمَةِ الْحَيَاةِ - مَعَ كَوْنِهَا صِفَاتٍ مُسْتَقِلَّةً - كَفِيلًا بِأَنْ يُهَيِّئَ الْمُسْلِمَ تَهْيِئَةً صَالِحَةً، لَا سِيَّمَا وَأَنَّ الِاتِّصَافَ بِالْخُلُقِ هُوَ إِجَابَةٌ لِأَوَامِرِ اللَّهِ تَعَالَى وَاجْتِنَابٌ لِنَوَاهِيهِ، لَا لِأَنَّ هَذَا الْخُلُقَ يَنْفَعُ أَوْ يَضُرُّ فِي الْحَيَاةِ.
Dan karenanya, integrasi akhlak dengan sistem kehidupan lainnya – meskipun akhlak itu sendiri adalah sifat-sifat yang mandiri – mampu mempersiapkan seorang Muslim dengan persiapan yang baik, terutama karena berakhlak baik adalah bentuk ketaatan terhadap perintah Allah Ta'ala dan menjauhi larangan-Nya, bukan karena akhlak ini memberikan manfaat atau kerugian di dunia.
وَهَذَا مِمَّا يَجْعَلُ الِاتِّصَافَ بِالْخُلُقِ الْحَسَنِ دَائِمِيًّا وَثَابِتًا مَا ثَبَتَ الْمُسْلِمُ عَلَى الْقِيَامِ بِتَطْبِيقِ الْإِسْلَامِ، وَلَا يَدُورُ حَيْثُ دَارَتِ الْمِنْفَعَةُ، لِأَنَّهُ لَا تُقْصَدُ مِنْهُ النَّفْعِيَّةُ، بَلْ يَجِبُ أَنْ تُسْتَبْعَدَ مِنْهُ، لِأَنَّ الْمَقْصُودَ مِنْهُ هُوَ الْقِيمَةُ الْخُلُقِيَّةُ فَقَطْ، لَا الْقِيمَةُ الْمَادِّيَّةُ أَوِ الْإِنْسَانِيَّةُ أَوِ الرُّوحِيَّةُ، بَلْ لَا يَجُوزُ أَنْ تَدْخُلَ هَذِهِ الْقِيَمُ فِيهِ لِئَلَّا يَحْصُلَ اضْطِرَابٌ فِي الْقِيَامِ بِهِ، أَوِ الِاتِّصَافِ بِهِ.
Dan ini adalah hal yang menjadikan berakhlak baik itu bersifat permanen dan stabil selama seorang Muslim tetap teguh dalam menerapkan Islam, dan tidak berputar mengikuti arah manfaat, karena yang dimaksud dengannya bukanlah manfaat duniawi, bahkan harus dijauhkan darinya, karena tujuannya hanyalah nilai moral, bukan nilai materi, kemanusiaan, atau spiritual. Bahkan tidak boleh nilai-nilai ini masuk ke dalamnya agar tidak terjadi kekacauan dalam pelaksanaannya atau dalam berakhlak dengannya.
وَمِمَّا يَجِبُ التَّنْبِيهُ إِلَيْهِ أَنَّهُ يَجِبُ اسْتِبْعَادُ الْقِيمَةِ الْمَادِّيَّةِ عَنِ الْخُلُقِ، وَاسْتِبْعَادُ أَنْ يَكُونَ الْقِيَامُ بِهِ مِنْ أَجْلِ الْمَنَافِعِ وَالْفَوَائِدِ، لِأَنَّ ذَلِكَ خَطَرٌ عَلَيْهِ.
Dan termasuk yang wajib diperhatikan adalah bahwa wajib menjauhkan nilai materi dari akhlak, dan menjauhkan pelaksanaan akhlak demi keuntungan dan manfaat, karena hal itu berbahaya baginya.
وَالْحَاصِلُ: إِنَّ الْأَخْلَاقَ لَيْسَتْ مِنْ مُقَوِّمَاتِ الْمُجْتَمَعِ، بَلْ هِيَ مِنْ مُقَوِّمَاتِ الْفَرْدِ.
Kesimpulannya: Sesungguhnya akhlak bukanlah termasuk pilar masyarakat, melainkan ia adalah pilar individu.
وَلِذَلِكَ لَا يَصْلُحُ الْمُجْتَمَعُ بِالْأَخْلَاقِ، بَلْ يَصْلُحُ بِالْأَفْكَارِ الْإِسْلَامِيَّةِ وَالْمَشَاعِرِ الْإِسْلَامِيَّةِ وَبِتَطْبِيقِ الْأَنْظِمَةِ الْإِسْلَامِيَّةِ.
Oleh karena itu, masyarakat tidak akan baik hanya dengan akhlak, melainkan akan baik dengan pemikiran Islam, perasaan Islam, dan penerapan sistem Islam.
وَمَعَ أَنَّ الْأَخْلَاقَ مِنْ مُقَوِّمَاتِ الْفَرْدِ، وَلَكِنَّهَا لَيْسَتْ هِيَ وَحْدَهَا ، وَلَا يَجُوزُ أَنْ تَكُونَ وَحْدَهَا، بَلْ لَا بُدَّ أَنْ تَكُونَ مَعَهَا الْعَقَائِدُ وَالْعِبَادَاتُ، وَالْمُعَامَلَاتُ.
Dan meskipun akhlak adalah salah satu pilar individu, namun ia tidak berdiri sendiri, dan tidak boleh berdiri sendiri, melainkan harus disertai dengan akidah, ibadah, dan muamalah.
وَلِذَلِكَ لَا يُعْتَبَرُ مَنْ كَانَتْ أَخْلَاقُهُ حَسَنَةً وَعَقِيدَتُهُ غَيْرَ إِسْلَامِيَّةٍ ، لِأَنَّهُ يَكُونُ حِينَئِذٍ كَافِرًا، وَلَيْسَ
Oleh karena itu, tidak dianggap (Muslim) orang yang akhlaknya baik tetapi akidahnya tidak Islami, karena pada saat itu ia menjadi kafir, dan bukan...
Halaman 143
بَعْدَ الكُفْرِ ذَنْبٌ.
Setelah kekafiran, ada dosa.
وَكَذَلِكَ مَنْ كَانَتْ أَخْلاقُهُ حَسَنَةً وَهُوَ غَيْرُ قائِمِ بِالْعِباداتِ، أَوْ غَيْرُ سائرٍ فِي مُعَامَلاتِهِ حَسَبَ أَحْكَامِ الشَّرْعِ.
Demikian juga orang yang akhlaknya baik, namun ia tidak melaksanakan ibadah, atau tidak berjalan dalam muamalahnya sesuai hukum syariat.
ومِنْ هُنا كَانَ لِزَامًا أَن يُرَاعَى فِي تَقْوِيمِ الْفَرْدِ وُجُودُ الْعَقِيدَةِ، وَالْعِبَادَاتِ وَالْمُعَامَلاتِ، وَالْأَخْلاقِ.
Dari sini, menjadi suatu keharusan untuk memperhatikan dalam pembentukan individu adanya akidah, ibadah, muamalah, dan akhlak.
ولا يَجُوزُ شَرْعًا الْعِنَايَةُ بِالْأَخْلاقِ وَحْدَهَا وَتَرْكُ بَاقِي الصِّفَاتِ، بَلْ لا يَجُوزُ أَن يُعْنَى بِشَيْءٍ مَا قَبْلَ الاطْمِئْنَانِ إِلَى الْعَقِيدَةِ.
Dan tidak boleh secara syariat hanya memperhatikan akhlak saja dan meninggalkan sifat-sifat lainnya, bahkan tidak boleh memperhatikan sesuatu pun sebelum adanya ketenangan (keyakinan) terhadap akidah.
وَالْأَمْرُ الْأَسَاسِيُّ فِي الْأَخْلاقِ هُوَ أَنَّهُ يَجِبُ أَنْ تَكُونَ مَبْنِيَّةً عَلَى الْعَقِيدَةِ الْإِسْلامِيَّةِ ، وَأَن يَتَّصِفَ الْمُؤْمِنُ بِهَا عَلَى أَنَّهَا أَوَامِرُ وَنَوَادٍ مِنَ اللهِ تَعَالَى.
Dan perkara mendasar dalam akhlak adalah bahwa ia harus dibangun di atas akidah Islam, dan seorang mukmin harus menyifatinya sebagai perintah dan perkumpulan-perkumpulan dari Allah Ta'ala.